BeinCash AdidasPoker
Advertisement
Advertisement
Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Tidak Ada Presidential Threshold, Demokrasi Semakin Bagus

Bandung – Hamdan Zoelvan, seorang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ( MK ) berpendapat jika presidential threshold dijalankan maka berlawanan dengan konstitusi. Sistem pemilu serentak juga tidak relevan lagi jika diiringi dengan adanya presidential threshold.

Tanpa presidential threshold, menurutnya justru akan lebih bagus lagi untuk dunia demokrasi Indonesia. Sebab, masyarakat akan memiliki banyak pilihan untuk calon presiden.

“Jadi, sebenarnya, membuka kemungkinan calon bagus untuk demokrasi,”ujar Hamdan di Kampus Universitas Padjajaran, Kota Bandung.

Menurutnya, cara pandang seseorang terhadap demokrasi dan presidential threshold akan berbeda. Hal itu akan bergantung dari sisi mana orang itu memandang antara demokrasi dan presidential threshold. Tapi, ia lebih setuju jika presidential threshold ditiadakan agar capres semakin banyak.

“Maka cara pandangnya bagaimana ? Tergantung cara kita melihat. Kalau saya melihat dengan membuka peluang setiap parpol berhak untuk mengajukan pasangan calon, itu demokrasi semakin bagus,”tandasnya.

Jika presidential threshold dijalankan, maka pasangan capres-cawapres yang bertarung hanya akan ada dua hingga tiga pasangan saja. “Dan itu menjadi persoalan,”ucapnya.

Dia berpandangan, tidak diberlakukannya presidential threshold akan membuat hasrat publik menginginkan adanya calon independen bakal terhenti. Sebab, setiap parpol akan memiliki calonnya sendiri.

“Jadi kalau dibuka secara lebih luas, justru akan mengurangi tuntutan orang untuk tidak adanya calon independen. karena apa ? karena kalau mau jadi capres, silahkan bikin parpol, bisa jadi peserta pemilu. Biar rakyat yang menyeleksi,”jelas Hamdan.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *